KONAWE, KROSCEK.CO.ID – Modernisasi yang terus bergerak tanpa henti, sekelompok pemuda bersama tokoh masyarakat Tolaki memilih menapaki jalan yang berbeda. Mereka kembali menengok akar sejarah, merawat ingatan, dan meneguhkan identitas budaya melalui sebuah tradisi yang sarat makna.
Forum Pemuda Adat Tolaki (FORDATI) Sulawesi Tenggara (Sultra), bersama sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati budaya menggelar kegiatan ziarah makam serta penggantian kain batu nisan pada sejumlah makam tokoh penting dalam sejarah dan perjalanan adat Tolaki.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat, penuh penghormatan, sekaligus menjadi refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Bagi masyarakat Tolaki, para pendahulu bukan sekadar bagian dari catatan sejarah. Mereka adalah penjaga nilai, penuntun peradaban, dan simbol kearifan yang telah membentuk karakter masyarakat hingga saat ini.
Dalam kegiatan tersebut, FORDATI Sultra melakukan ziarah ke sejumlah makam tokoh yang memiliki posisi penting dalam sejarah dan adat Tolaki, yakni Makam Raja Lakidende Sangia Ngginoburu, Makam Pue Kalenggo, Makam Karaeng Watukila Ndariala, Makam Tohamba Bin Mokole Maranai, serta Makam Pue Tainoa Watuanggotoa.
Setiap lokasi menjadi ruang penghormatan yang tidak hanya menghadirkan doa-doa bagi para leluhur, tetapi juga menjadi pengingat akan perjalanan panjang sejarah yang telah diwariskan kepada generasi masa kini.
Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Mengenang!

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemerhati budaya, diantaranya H. Dedet Ilnari Yusta, SE., MA., M.IN.CD, Ilmarsyah Agus Sudoyo Dongge, S.Hut, Ajemain Suruambo, S.Sos., M.Si, Sarman Fidel, serta anggota Forum Pemuda Adat Tolaki (FORDATI).
Prosesi diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Selanjutnya, para peserta melakukan pembersihan area makam dan penggantian kain batu nisan, sebuah simbol penghargaan yang telah menjadi bagian dari tradisi penghormatan dalam budaya Tolaki.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sesuai tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak ada yang dilakukan secara serampangan.
Setiap tahapan memiliki makna, nilai, dan filosofi yang mencerminkan hubungan erat antara masyarakat Tolaki dengan sejarah leluhurnya.
Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah di kalangan generasi muda.
Tantangan globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, para peserta menegaskan bahwa menjaga budaya bukanlah pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Menurut FORDATI Sultra, pelestarian adat dan penghormatan terhadap para leluhur merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan identitas masyarakat Tolaki agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Salah satu tokoh yang hadir, Ajemain Suruambo, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ziarah adat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar mengunjungi makam para pendahulu.
“Melalui ziarah makam dan pelaksanaan tradisi adat ini, kita menjaga hubungan batin dengan para pendahulu sekaligus merawat warisan budaya Tolaki agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi mendalam yang selama ini hidup dalam masyarakat Tolaki, yakni bahwa hubungan dengan leluhur tidak terputus oleh ruang dan waktu. Nilai-nilai yang mereka wariskan tetap menjadi pijakan moral bagi generasi penerus.
Merawat Sejarah, Menguatkan Generasi Muda
Bagi FORDATI, kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan budaya yang sangat penting. Di tengah generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi dan budaya global, pengenalan terhadap sejarah lokal menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Melalui kegiatan ziarah adat, para pemuda diajak untuk mengenal tokoh-tokoh besar Tolaki, memahami perjuangan mereka, serta meneladani nilai-nilai kepemimpinan, persatuan, dan penghormatan terhadap adat istiadat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah mempererat kebersamaan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah yang menjadi identitas masyarakat Tolaki.
FORDATI berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga warisan budaya yang telah dijaga selama berabad-abad tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Saat doa-doa terakhir dipanjatkan dan penghormatan penutup diberikan kepada para leluhur, suasana hening menyelimuti seluruh peserta. Dibalik kesederhanaan prosesi tersebut, tersimpan pesan besar bahwa sebuah peradaban akan tetap kokoh selama masyarakatnya tidak melupakan akar sejarahnya.
Ditanah Tolaki, penghormatan kepada leluhur bukan sekadar tradisi. Ia adalah ikhtiar menjaga jati diri, merawat ingatan kolektif, dan memastikan bahwa jejak para pendahulu tetap hidup dalam langkah generasi masa depan.***
Laporan: Muh. Sahrul




























