Kendari, Kroscek.co.id – Menjelang bulan suci Ramadhan, ketika kebutuhan masyarakat meningkat signifikan, stabilitas harga bahan pokok menjadi isu krusial yang tidak bisa ditangani secara biasa-biasa saja.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Anton Timbang, memilih untuk tidak menunggu gejolak terjadi. Ia bergerak lebih awal, memastikan distribusi dan harga tetap terkendali.
Lusa, melalui Gerakan Pasar Murah (GPM), tepatnya 14 Februari 2026, Kadin Sultra menghadirkan komoditas strategis seperti beras, telur, dan minyak goreng dengan harga yang terjangkau.
Langkah ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bentuk intervensi terukur dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi lonjakan harga.
Ramadhan selalu identik dengan peningkatan konsumsi. Permintaan yang melonjak kerap diikuti fluktuasi harga yang membebani warga. Anton Timbang memahami pola tersebut.
“Karena itu, stabilisasi harga menjadi prioritas utama, bukan hanya untuk menjaga inflasi daerah, tetapi untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa tekanan ekonomi berlebihan,” Tegasnya.
Lebih dari sekadar pasar murah, program ini menjadi bagian dari desain besar sistem distribusi pangan skala provinsi yang tengah dirancang bersama Pemerintah Provinsi Sultra.
Kadin tidak hanya berperan sebagai pendukung, tetapi sebagai motor penggerak kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan pelaku UMKM.
UMKM binaan Kadin dilibatkan langsung dalam rantai distribusi. Strategi ini memastikan potensi lokal tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Perputaran nilai tambah tetap berada di Sultra, memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.
Anton Timbang menegaskan, stabilitas harga bukan tanggung jawab satu pihak. Diperlukan koordinasi yang solid, pengawasan stok yang ketat, serta dukungan infrastruktur distribusi yang memadai.
“Kami ingin memastikan masyarakat terbantu, harga tetap terkendali, dan UMKM mendapatkan ruang tumbuh. Sinergi ini harus berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen bahwa dunia usaha tidak boleh pasif. Stabilitas ekonomi daerah tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah.
Kadin Sultra memilih untuk hadir sebagai mitra strategis yang aktif, responsif, dan solutif. Langkah konkret menjelang Ramadan ini menjadi pesan kuat bahwa pengendalian harga bukan wacana, melainkan kerja nyata.
“Dengan kolaborasi yang terarah dan konsisten, fondasi ekonomi Sultra diharapkan semakin kokoh, berdaya saing, dan mampu menghadapi dinamika pasar secara adaptif,” Imbuh Anton Timbang.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus bergerak dinamis, keberanian mengambil langkah cepat dan terukur menjadi kunci.
Anton Timbang dan Kadin Sultra menunjukkan bahwa stabilitas bukan sekadar harapan, tetapi hasil dari komitmen dan tindakan. (**)
Laporan: Muh. Sahrul










