Konawe Utara, Kroscek.co.id – Komitmen Pemerintah daerah Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam mendukung pengembangan industri kreatif dan perfilman lokal kembali ditunjukkan secara nyata.
Bupati Konawe Utara, H. Ikbar, S.H., M.H., turut ambil bagian sebagai pemeran dengan peran Camat dalam film horor lokal “Arwah Pue Tuko”, sebuah karya sinema anak daerah Sulawesi Tenggara yang dijadwalkan tayang pada Januari 2026.
Keterlibatan langsung Bupati Ikbar ini menjadi simbol dukungan pemerintah daerah terhadap tumbuhnya ekosistem kreatif lokal, khususnya di bidang perfilman.

Menurut Ikbar, karya film lokal memiliki peran strategis dalam mempromosikan potensi wisata alam, memperkenalkan budaya, serta menguatkan identitas dan kearifan lokal Sulawesi Tenggara ke tingkat nasional.
“Kami sangat mendukung produk anak-anak lokal Sulawesi Tenggara. Film seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi media edukasi dan promosi daerah. Budaya, kearifan lokal, dan identitas daerah harus terus diperkenalkan, terutama oleh generasi muda, hingga ke tingkat nasional,” tegas Ikbar kepada Kroscek.co.id, Sabtu (3/1/2026).
Sementara itu, pihak produksi menyampaikan bahwa film “Arwah Pue Tuko” saat ini telah memasuki tahap akhir produksi. Proses editing dan pengisian tata suara (sound) sedang berjalan, menandai kesiapan film menuju penayangan resmi.

Produser film, Vian Saryanti Haryato, mengungkapkan bahwa trailer resmi telah diluncurkan dan mulai beredar di berbagai platform media sosial serta media daring. Respons publik dinilai sangat positif.
“Alhamdulillah, trailer resmi sudah launching dan diposting oleh beberapa media online. Respons netizen luar biasa dan sangat menguatkan kami,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara atas dukungan dan penerimaan yang diberikan terhadap karya anak lokal.
Menurutnya, antusiasme publik menjadi energi besar bagi seluruh tim produksi, mulai dari sutradara, para pemeran, hingga kru.
“Kami mohon doa agar seluruh proses berjalan lancar, tanpa hambatan, dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kami juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung dan mengawal film ini sampai resmi tayang,” ungkapnya.

Film “Arwah Pue Tuko” tidak hanya menghadirkan cerita horor komedi, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya lokal, bahasa daerah, tradisi, serta latar alam Konawe Utara.
Film ini menjadi bukti konkret bahwa kreativitas lokal mampu melahirkan karya sinema yang berkarakter, berakar pada budaya, sekaligus menghibur.
“Arwah Pue Tuko” mengisahkan sebuah kampung yang dikenal angker dengan keberadaan penunggunya. Kekacauan yang terus terjadi memicu kemunculan sosok Arwah Pue Tuko, atau dikenal sebagai Arwah Kakek Tongkat, yang dipercaya bangkit untuk mengambil tumbal sebagai konsekuensi dari rusaknya tatanan kehidupan kampung.
Kisah ini dikemas dengan sentuhan horor yang berpadu komedi, menjadikannya ringan namun tetap sarat makna.
Diproduseri oleh Vian Saryanti Haryato, film ini tidak hanya menonjolkan sisi hiburan, tetapi juga kuat dalam mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Sejumlah tradisi khas Tolaki seperti mosehe wonua, lulo nggarandu, permainan tradisional tempo dulu, serta penggunaan bahasa daerah Tolaki ditampilkan secara autentik.
Film ini juga melibatkan berbagai latar belakang suku, merepresentasikan pesan toleransi dan harmoni dalam keberagaman budaya.
Menariknya, “Arwah Pue Tuko” merupakan 100 persen karya konten kreator lokal Sulawesi Tenggara yang dikolaborasikan dalam satu visi penyutradaraan. Kolaborasi ini menghasilkan alur cerita yang segar, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan relevan dengan identitas lokal.
Dari sisi lokasi, film ini memperkuat promosi daerah dengan mengambil latar syuting di Kabupaten Konawe Utara, khususnya Kecamatan Sawa, Kecamatan Lembo, serta Kecamatan Meluhu (Wonua Ndinudu).
Turut diperkuat oleh kehadiran sejumlah pemeran lokal yang telah dikenal luas di masyarakat dan media sosial, di antaranya Anton Taufik Sainudin (Bapanya Sogepe), Mamaya Sogepe, Vian Tondo (Pak Lurah TikTok), Alkes Kelor, Princess Piranha, Bunggeke, Ibu Ani, Pak Desa Saritando, serta Ketua Dewan Sara Fordati, Adjemain Suruambo, S.Si., M.Sos.
Dengan kekuatan cerita, nilai budaya, keterlibatan tokoh daerah, serta dukungan penuh kreator lokal, “Arwah Pue Tuko” diproyeksikan menjadi salah satu film daerah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Sulawesi Tenggara di layar lebar.
Film ini menjadi penegasan bahwa karya lokal mampu berdiri sejajar, berani tampil, dan layak mendapat perhatian publik luas.
Keindahan dan karakter alam daerah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana cerita.
Arwah Pue Tuko diharapkan mampu memperkuat posisi Sulawesi Tenggara sebagai daerah yang produktif secara budaya dan kreatif, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi sineas muda lokal untuk terus berkarya dan tampil di panggung nasional. (**)













